Kisah ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Dan kisah ini berawal dari kedekatanku dengan seorang pria bernama Ihsan. Kami berteman cukup lama, menghabiskan waktu bersama. Hingga tak tersadar ada rasa yang begitu indah ketika kami berdua, cinta.Yaa mungkin cinta namanya. Tapi cinta itu tak pernah terungkap. Tak pernah sedikitpun kami mengutarakan hal itu. Terasa sakit memang, kedekatan yang begitu sempurna, tujuan yang sama, tapi keberaian mengutarakan cinta tak pernah kami dapatkan. Ada alasan sederhana, kami tak ingin menodai persahabatan ini hanya karena cinta.
Tapi ternyata alasan itu justru salah. Alasan itu membuat kami perlahan menjauh. Tak ada lagi kebersamaan, tak ada lagi candaan dia yang dulu pernah menghilangkan segala kejenuhan karna aktivitasku. Yang ada tinggal kecanggungan, ketidaknyamanan yang pada akhirnya memutuskanku untuk menerima cinta seorang lelaki lain sebut saja Yanuar . Dan laki-laki itu ternyata sedikit bisa menggantikan posisi Ihsan di hatiku. Dan kami memutuskan untuk menikah. Bahagia memang, sangat bahagia. Betapa lelaki ini sanga sempurna melengkapi hidupku yang sempat jatuh tersungkur karena pengharapan hampa yang kuterima semenjak kedekatanku dengan Ihsan.
Ditengah kebahagiaan ini, tiba -tiba Ihsan datang. Yang tentu aku menyambutnya dengan perasaan bahagia pula. Berharap mampu membangun kedekatan kami seperti dulu meski sebatas teman (lagi). Nampak kecewa di wajahnya saat aku bilang ada Yanuar yang menggantikan dia semenjak dia pergi dengan ketidakjelasannya. Hari - hari kami lalui dengan tawa, cerita dan kebiasaan kami yang dulu sempat hilang. Hingga tanpa sadar di sinilah kesalahan kedua datang. Dia berhasil menyemaikan benih cinta di hatiku. Kali ini dia mengutarakan cintanya. Senang, sedih, bingung beradu jadi satu. Ihsan, lelaki yang selama ini dambakan cintanya. Yang aku sangat menginginkan dia menjadi imamku, dia mengatakan bahwa dia berharap akulah yang menjadi istrinya. Tapi, bagaimana dengan Yanuar? dia lelaki baik, hubungan kami pun telah berada di jenjang yang cukup serius. Orang tua kami terlanjur berharap cucu dariaku dan dia.
Saat itu aku benar - benar berada di titik yang memaksaku untuk menangis setiap hari. Hanya karena 2 lelaki yang amat baik padaku. Ihsan atau Yanuar?. Hingga pada suatu ketika, orang tua Yanuar datang melamarku. Mereka meminta agar aku dan Yanuar segera menikah. Karena memang usia kami sudah cukup matang. Dan apa daya, aku menerimanya.
Senja di esoknya, Ihsan memintaku memberi jawaban atas pernyataan cintanya. Aku takut, bingung apa yang harus aku katakan padanya? aku takut menyakitinya. Aku takut menghempaskannya. Tapi kenyataan di depan mata, aku beranikan diri berkata jujur padanya. Dan dia, dia hanya tersenyum seraya mengucapkan selamat atas pertunanganku. Aku menangis, rupanya airmata ini memang tersisa untuk menangisi akhir pertemuanku ddengan Ihsan. Aku pulang dengan perasaan yang samasekali tak pernah bisa aku ungkapkan saat itu. Setauku, aku telah berdosa. Berdosa karena menyakiti hati lelaki yang baik. Yang cintanya ternyata memang untukku. Ahh,,, sudahlah....
31 Desember 2011 tepatnya di hari pernikahanku. Aku sangat siap dengan hari bersejarah ini. Di mataku, pkiranku, hanya Yanuar. Yanuarlah yang memang terpilih sebagai imamku. Yanuarlah yang terpantas menjadiayah dari anak - anakku nanti. Senyum merekah di bibir kami, gerimis yang indah seperti ikut merasakan kebahagiaan kami. Hingga perlahan namun pasti, sumpah janji ijab qabul terucap dari bibir Yanuar. Air mataku tumpah ketika para saksi menyatakan sah atas pernukahan ini, dan penghulu membacakan doa unutk mempelai. Luar biasa saat itu. Aku kecup tangan Yanuar yang telah resmi menjadi suamiku.
Resepsi dimulai, tak ada rasa gugup, canggung ataupun malu. Hanya tawa bahagia yang menghiasi ruangan kami saat itu. Hingga tak terduga. Ada Ihsan, ada Ihsan di barisan tamu undangan yang menunggu giliran untuk memberikan ucapan selamat untukku dan Yanuar. Dadaku sesak, airmataku tumpah, lepas rasanya seluruh sendi di tubuhku. Lelaki itu hadir di hari bahagiaku, tentu dengan hatinya yang hancur. Tiba giliran Ihsan menyalami kami, dia memeluk Yanuar, aku tak sanggup menatap wajahnya. Kemudian dia menyalamiku, dengan tersenyum, sedikit menggodaku dengan candaan yang dulu selalu dia lontarkan. Sakit sekali rasanya ketika dia berbisik, "Aku beruntung, pernah memimpikan saat ini bersamamu". Lalu dia pergi dan sampai saat ini diapun tak pernah lagi ku dengar kabarnya. dan tak pernah lagi kutau dimana dia. Malamnya, aku membuka sebuah kado besar yang isinya adalah sebuah sajadah,mukena dan Al-Quran. Ada secarik kertas kecil yang aku dapat dari lipatan isi kado itu.
"Bidadariku,
dulu aku pernah membeli ini dan berniat untuk kujadikan seserahan melamarmu,
dan ku pernah bermimpi melihatmu cantik dengan mukena ini ketika malam pertama kita.
Tapi apa daya. Yanuar lebih beruntung,
Dia yang lebih pantas memakaikan mukena ini
dan membimbingmu membaca Al-Quran.
Berbahagialah sayang,
terima kasih atas bahagia yang sempat kau berikan untukku dulu,
aku tetap mencintaimu
Dari : Ihsan."
Airmataku kembali menetes dengan derasnya. Lirih ku sebut namanya. Ihsan..
terima kasih atas bahagia yang sempat kau berikan untukku dulu.
Purworejo, 05 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar