By : Taufiqurrahman
Telah lebih sebulan, Rizal mempersunting Dinda. Alumnus pesantren yang juga guru ngaji di mushalla itu amat beruntung. Meski kerjanya luntang-luntung, serabutan, atau tepatnya masih pengangguran alias tidak punya profesi dan penghasilan tetap, tapi Dinda tetap mencintainya.
Telah lebih sebulan, Rizal mempersunting Dinda. Alumnus pesantren yang juga guru ngaji di mushalla itu amat beruntung. Meski kerjanya luntang-luntung, serabutan, atau tepatnya masih pengangguran alias tidak punya profesi dan penghasilan tetap, tapi Dinda tetap mencintainya.
Dinda yang cantik jelita dan berasal dari keluarga berada, justru lebih memilih Rizal sebagai imamnya daripada laki-laki lain pilihan papa dan mamanya. Dalam diri Rizal, ada sebuah uswah yang dibutuhkan dan ada harapan hidup sakinah yang Dinda dambakan. Inilah yang membuat gadis berparas elok itu rela hidup apa adanya, asal Rizal tetap di sampingnya.
Malam itu, di rumah orang tua Rizal, di atas ranjang sederhana yang terbuat dari bambu, Dinda tertidur pulas. Tubuh mulusnya dibalut selimut tipis dan kepalanya merebah di atas bantal yang lusuh. Kamar itu terasa pengap karena sempit. Tepat di samping ranjang, hanya ada lemari kecil yang di depannya terhampar sajadah. Di atas sajadah itulah, Rizal bersimpuh usai shalat malam.
Selepas berdoa, Rizal duduk di pinggir ranjang. Sayup-sayup, kedua matanya memandang wajah Dinda yang sedang tertidur pulas. Kedua mata isterinya yang sedang tertutup rapat, terus ditatapnya. Lalu selanjutnya, tak kuasa pula tangannya ikut membelai rambut Dinda.
"Maafkan aku, Sayang! Hanya ini yang bisa aku berikan. Jika kau tidak memilihku, pasti tiap malam kamu akan tidur di atas kasur empuk. Dirimu tidak akan tergeletak di atas ranjang bambu, tapi bersemayam di atas singgasana kerajaan".
"Maafkan aku, Sayang! Bila kamu tidak menerima cintaku, pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari yang aku miliki. Aku hanyalah santri yang hingga kini belum tahu apa yang akan aku makan dan aku berikan untukmu esok hari. Padahal, bila dulu kau ikuti nasehat orang tuamu, pastilah suami pilihan mereka jauh lebih membahagiakan. Mereka tidak akan mengajakmu berpikir apa yang akan kita makan, tapi justru menawarimu, esok akan makan dimana, menunya apa".
"Maafkan aku, Sayang. Hanya ini gubuk reot milikku yang bisa menaungimu dari terik matahari dan guyuran hujan. Aku tak punya apa-apa lagi, selain cinta dan kasih sayang".
Hari semakin malam. Hanya suara jangkrik ditemani tokek yang terus berdendang. Sementara Dinda masih asyik tergolek pulas. Isteri Rizal itu sedang menikmati mimpinya, meski nyamuk mengitarinya sambil berebut untuk menghisap darah segarnya.
Sedangkan Rizal, suaminya, masih belum juga mampu memejamkan mata. Ia tetap duduk di pinggir ranjang sambil terus memandangi wajah isteri yang ia cintai. Hati dan pikirannya masih terus bergejolak memikirkan nasib Dinda yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Teringat jelas bagaimana saat pertama kali, Rizal bersama ibunya yang telah lama berstatus janda, meminang Dinda di hadapan orang tua gadis itu. Kala itu, wajah cemberut tampak di raut muka Papanya. Apalagi dengan sang mama yang langsung bereaksi dengan mengatakan, "Nak Rizal, apakah putriku ini kelak akan kamu beri makan kitab kuning?"
Pertanyaan itu, bagi Rizal, menjadi tekanan batin yang terus-menerus menggelinding bagai bola salju. Entah apa yang bisa ia berikan kepada Dinda yang kini telah menjadi amanat baginya. Mampukah ia yang hanya lulusan pesantren membahagiakan isterinya?
Tiba-tiba, tatapan mata Rizal yang terus menyorot ke wajah isteri, tanpa ia sadari, telah berkaca-kaca. Lalu, bagai embun yang jatuh di pagi hari, seluruh permukaan wajah Rizal telah dipenuhi air mata kesedihan hingga tanpa bisa dibendung, beberapa tetes air mata itu jatuh dan menggelinding di dahi Dinda.
Sebenarnya, Rizal hendak segera mengusap air mata yang sedang meluncur dari dahi Dinda, namun terlambat. Air mata itu kini telah jatuh ke pelupuk mata Dinda. Akibatnya, wanita itu terbangun. Saat kedua matanya terbuka, ia merasakan air mata Rizal telah menyambut bola matanya yang indah.
Dinda pun terkejut melihat suaminya masih terduduk di pinggir ranjam sambil menangis.
"Benarkah Jenengan sedang menangis? Ada masalah apa? Apakah Mas Rizal sakit?", tanya Dinda.
"Tidak ada apa-apa kok. Saya baik-baik saja", jawab Rizal yang segera menghapus air matanya dengan surban yang masih bergelantung di pundaknya.
"Lalu, mengapa menangis?", tanya Dinda, lagi.
"Maafkan aku, Sayang", hanya itu yang bisa diucapkan Rizal sambil melempar tatapannya ke arah jendela. Dinda pun mengangkat badannya. Ia berusaha duduk sambil bersandar di sisi ranjang.
"Jenengan salah apa? Saya kira, tidak ada masalah apa-apa", ucap Dinda yang masih belum mengerti apa yang dimaksud dan yang sedang dipikirkan Rizal.
"Sayangku. Aku hanya khawatir, tidak bisa membahagiakanmu. Sebab, aku tak punya apa-apa yang bisa aku berikan. Uang, pekerjaan, toko, rumah, semuanya belum aku miliki. Maafkan aku, Sayang", kata Rizal sambil menatap wajah isterinya, setelah itu, ia menundukkan kepalanya.
Pelan tapi pasti, telapak tangan Dinda menyentuh dagu Rizal. Ia ingin mengangkat kembali mahkota suaminya yang kini sedang memikirkan masa depan dirinya.
"Mas, jika seluruh dunia ini belum Jenengan miliki, apakah aku juga termasuk bukan milikmu?", tanya Dinda.
Agak lama Rizal terdiam.
"Satu-satu yang kumiliki, hanya Jenengan, Sayangku", kata Rizal, lirih.
"Jika demikian, la takhof wa la tahzan. Jangan takut dan jangan sedih, suamiku. Selama Jenengan mencintai saya untuk selamanya, maka yang lainnya di dunia ini tidak penting bagiku".
Kembali, Rizal tak kuasa menahan air matanya. Tapi kali ini, air mata itu disertai senyum kebahagiaan. Lalu, segera ia mendekap isterinya.
"Maafkan aku, Sayang. Kini aku baru menyadari, bahwa Allah telah memenuhi permintaanku. Dulu, tak henti-hentinya aku memohon agar diberi perhiasan dunia terindah yang menurut Nabi adalah wanita shalihah. Ternyata, mutiara terindah di dunia ini sudah di tanganku dan takkan pernah aku lepaskan untuk selamanya"
Dinda pun akhirnya turut menangis sambil kepalanya bersandar di bahu Rizal, suaminya.
"Maafkan aku, Mas. Aku sangat bahagia mendengarnya. Selamanya, aku akan tetap bermakmum hingga salam mengantarkan kita ke haribaan Allah".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar