Yaa, aku pernah jatuh cinta
dalam diam. Dimana seharusnya lidah ini lihai untuk mengarahkan agar bibir
terbuka dan mau berucap, tapi ternyata salah, dia benar – benar lupa akan
fungsinya. Mata yang terus bekerja, hingga mungkin dia lelah, hampir setiap
hari aku ajak untuk sekedar mencari dimana keberadaannya, dan mengamati setiap
geraknya dari kejauhan, meski demikian, efek yang ditimbulkan luar biasa.
Bahagia, yaa bahagia. Meski terlihat bodoh.
Bodoh menahan rasa yang
terkadang membuat dada sebelah kiri terasa sesak karena terlalu keras menahan
perasaan yang terus mendesak untuk dinyatakan.
Naif? Iya naïf, aku selalu
bilang “tidak” ketika beberapa orang menanyakan pertanyaan yang sama “Lo suka kan
ma dia?” entah kenapa aku tak ingin orang tahu kalo aku memendam rasa yang amat
dalam kepadanya.
Ya, cinta memang aneh,
Meski aku tak tau benar apa
yang mendasari aku mencintainya, tapi
aku tetap saja mengharapkannya.
Ya cinta memang nakal
Meski aku tau ini sungguh
menyakitkan, menahan rasa yang seolah membuatku bodoh, toh aku tetap menikmatinya.
Entahlah,
Yang pasti aku cukup bahagia
mencintainya dengan caraku seperti ini, walau tanpa kepastian yang pasti,
harapan yang terkadang dikecewakan kenyataan dan mungkin mimpi yang terpaksa
aku hentikan karena aku harus bangun.
Menyebut namanya dalam
setiap doa, itulah caraku mencintainya meski dalam diam.
Puncak, 20 Februari 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar