Rabu, 05 November 2014

Jatuh Cinta Dalam Diam



Yaa, aku pernah jatuh cinta dalam diam. Dimana seharusnya lidah ini lihai untuk mengarahkan agar bibir terbuka dan mau berucap, tapi ternyata salah, dia benar – benar lupa akan fungsinya. Mata yang terus bekerja, hingga mungkin dia lelah, hampir setiap hari aku ajak untuk sekedar mencari dimana keberadaannya, dan mengamati setiap geraknya dari kejauhan, meski demikian, efek yang ditimbulkan luar biasa. Bahagia, yaa bahagia. Meski terlihat bodoh.
Bodoh menahan rasa yang terkadang membuat dada sebelah kiri terasa sesak karena terlalu keras menahan perasaan yang terus mendesak untuk dinyatakan.
Naif? Iya naïf, aku selalu bilang “tidak” ketika beberapa orang menanyakan pertanyaan yang sama “Lo suka kan ma dia?” entah kenapa aku tak ingin orang tahu kalo aku memendam rasa yang amat dalam kepadanya.

Ya, cinta memang aneh,
Meski aku tak tau benar apa yang mendasari  aku mencintainya, tapi aku tetap saja mengharapkannya.
Ya cinta memang nakal
Meski aku tau ini sungguh menyakitkan, menahan rasa yang seolah membuatku bodoh, toh aku tetap menikmatinya.

Entahlah,
Yang pasti aku cukup bahagia mencintainya dengan caraku seperti ini, walau tanpa kepastian yang pasti, harapan yang terkadang dikecewakan kenyataan dan mungkin mimpi yang terpaksa aku hentikan karena aku harus bangun.
Menyebut namanya dalam setiap doa, itulah caraku mencintainya meski dalam diam.

Puncak, 20 Februari 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar